Kamis, 13 Agustus 2015

laporan dukun bayi



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukkan masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan. Delapan puluh persen (80%) persalinan di masyarakat masih di tolong oleh tenaga non-kesehatan, seperti dukun. Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di anggap sebagai tokoh masyarakat. Masyarakat masih mempercayakan pertolongan persalinan oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun dianggap murah dan dukun tetap memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan, seperti merawat dan memandikan bayi. Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemerintah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun.
Upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita maka semua persalinan yang ditangani oleh dukun bayi harus beralih ditangani oleh bidan. Kecuali hal-hal yang berhubungan dengan adat dan kebiasaan setempat dengan menjalin hubungan antara dukun dan bidan, tetapi kemitraan yang berjalan saat ini masih dalam batas pemaknaan transfer ilmu pengetahuan, serta masih dalam bentuk pembinaan cara-cara persalinan yang higienis kepada dukun bayi.
1
 
Salah satu kasus kesehatan yang masih banyak terjadi di Indonesia adalah persalinan dengan pertolongan oleh dukun bayi. Kenyataannya, hampir semua masyarakat Indonesia baik itu yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan lebih senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat setempat. Dan cara atau strategi untuk membangun cohesive network di antara para pemuka setempat, masyarakat, dukun dan bidan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan maternal dan perinatal secara bersama-sama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.
Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Informan yang dipilih adalah dukun bayi, bidan, ibu yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi dan ibu yang melahirkan dengan pertolongan bidan. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 131)

B.       Tujuan
Mengetahui Untuk mengembangkan pengetahuan tentang “ASKEB V (Kebidanan Komunitas)” khususnya pada pembahasan tentang Pembinaan dan Pelatihan Dukun Bayi






















BAB II
TINJAUAN TEORI


A.      Dukun Bayi
Menurut Adimihardja (2005) dukun bayi adalah seorang wanita atau pria yang menolong persalinan. Kemampuan ini diperoleh secara turun temurun dari ibu kepada anak atau dari keluarga dekat lainnya. Cara mendapatkan kemampuan ini adalah melalui magang dari pengalaman sendiri atau saat membantu melahirkan (dalam Anggorodi, 2009). Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.(Dep Kes RI. 1994 : 2). Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki ketrampilan menolong persalinan secara tradisional dan memperoleh ketrampilan tersebut dengan cara turun temurun belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah penigkatan ketrampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan.
Dukun bayi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya, menolong proses persalinan seseorang, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain sebagainya. Dukun bayi biasanya juga selain dilengkapi dengan keahlian atau skill, juga dibantu dengan berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu mereka. Proses pendampingan tersebut berjalan sampai dengan bayi berumur 2 tahunan. Tetapi, pendampingan yang sifatnya rutin sekitar 7 - 10 hari pasca melahirkan. Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.



3
 
 
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengenal dukun bayi atau dukun beranak sebagai tenaga pertolongan persalinan yang diwariskan secara turun temurun. Dukun bayi yaitu mereka yang memberi pertolongan pada waktu kelahiran atau dalam hal-hal yang berhubungan dengan pertolongan kelahiran, seperti memandikan bayi, upacara menginjak tanah, dan upacara adat serimonial lainnya. Pada kelahiran anak dukun bayi yang biasanya adalah seorang wanita tua yang sudah berpengalaman, membantu melahirkan dan memimpin upacara yang bersangkut paut dengan kelahiran itu (Koentjaraningrat, 1992).

B.       Ciri-Ciri Dukun Bayi
1.      Pada umumnya adalah seorang anggota masyarakat yang cukup dikenal di desa.
2.      Pendidikan tidak melebihi pendidikan orang biasa, umumnya buta huruf 
3.      Pekerjaan sebagai dukun umumnya bukan untuk tujuan mencari uang tetapi karena ‘panggilan’ atau melalui mimpi-mimpi, dengan tujuan untuk menolong sesama 
4.      Disamping menjadi dukun, mereka mempunyai pekerjaan lainnya yang tetap. Misalnya petani, atau buruh kecil sehingga dapat dikatakan bahwa pekerjaan dukun hanyalah pekerjaan sambilan.
5.      Ongkos yang harus dibayar tidak ditentukan, tetapi menurut kemampuan dari masing-masing orang yang ditolong sehingga besar kecil uang yang diterima tidak sama setiap waktunya.
6.      Umumnya dihormati dalam masyarakat atau umumnya merupakan tokoh yang berpengaruh, misalnya kedudukan dukun bayi dalam masyarakat .

C.      Pembagian Dukun Bayi
1.      Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2.      Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.

D.      Fungsi Dukun Bayi
Selaras dengan keterampilannya, dukun bayi memiliki 2 macam fungsi, ialah fungsi utama dan fungsi tambahan. Fungsi utama dukun bayi ialah melaksanakan pertolongan persalinan secara benar dan aman. Untuk mendukung fungsi utamanya, maka fungsi tambahan dapat dikembangkan setempat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan. Dalam kerangka program KIA, fungsi dukun bayi meliputi:
1.         Perawatan ibu hamil normal
2.         Pengenalan dan rujukan ibu hamil dengan resiko tinggi dan penyulit kehamilan
3.         Rujukan ibu hamil untuk mendapat suntikan TT
4.         Persalinan yang aman
5.         Perawatan masa nifas
6.         Pengenalan dan rujukan ibu masa nifas dan bayi untuk diimunisasi
Agar dukun bayi dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Diharapkan mereka terlibat secara aktif di posyandu setempat. Jenis dan derajat keterlibatan dukun bayi di posyandu diserahkan kepada dukun bayi sendiri dan pengaturan dukun bayi di masyarakat.
Peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk didalamnya penurunan kematian bayi dan anak, akan lebih berhasil bila mengikutsertakan masyarakat. dukun bayi adalah salah satu warga masyarakat yang sangat potensial dalam upaya tersebut.

E.       Peran Dukun Bayi
1.      Memberitahu ibu hamil untuk bersalin di tenaga kesehatan. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan diantaranya bersalin dengan bidan karena bidan :
a.       Bisa menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai dan dapat memberikan pelayanan dan pemantauan yang memadai dengan memperhatikan kebutuhan ibu selama proses persalinan berlangsung.
b.      Dapat melakukan pertolongan persalinan yang aman.
c.       Bidan melakukan pengeluaran plasenta dengan peregangan tali pusat dengan benar
d.      Bidan mengenali secara tepat tanda – tanda gawat janin dan tanda bahaya dalam persalinan sehingga dapat melakukan rujukan secara tepat.
2.      Mengenali tanda bahaya pada kehamilan persalinan nifas dan rujukannya
3.      Pengenalan dini tetanus neonatorum BBL dan rujukanya


Pembinaan menjangkau 2 aspek :
1.      Pembinaan ketrampilan dukun bayi.
2.      Pembinaan hasil kegiatan yang dilaksanan oleh dukun bayi.

F.       Tujuan Pembinaan Dukun Bayi
Dukun bayi merupakan tokoh kunci dalam masyarakat yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Peran dan pengaruh dukun sangat bervariasi sesuai dengan budaya yang berlaku. Peran dukun dalam masa perinatal sangat kecil atau dukun memiliki wewenang yang terbatas dalam pengambilan keputusan tentang cara penatalaksanaan komplikasi kehamilan atau persalinan, sehinngga angka kematian masih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, yaitu untuk meningkatkan status dukun dalam pengambilan keputusan, maka di lakukan upaya pelatihan dukun bayi agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan di terima oleh anggota masyarakat.
Beberapa program pelatihan dukun bayi memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak. Pokok dari pelatihan dukun adalah untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sudah di lakukan oleh dukun, seperti memberikan saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat di kurangi atau di cegah sedini mungkin.
G.      Langkah Pembinaan Dukun Bayi
Pembinaan dukun dilakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan dari masing-masing daerah atau dukun berasal ,karena tidak mudah mengajak seseorang dukun untuk mengikuti pembinaan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
1.    Fase I : Pendaftaran Dukun
a.       Semua dukun yang berpraktek didaftar dan diberikan tanda terdaftar
b.      Dilakukan assesment mengenai pengetahuan/ ketrampilan dan sikap mereka dalam penanganan kehamilan dan persalinan
2.    Fase II : Pelatihan
a.       Dilakukan pelatihan sesuai dengan hasil assessment
b.      Diberikan sertifikat
c.       Diberikan penataan kembali tugas dan wewenang bidan dalam pelayanan kesehatan ibu
d.      Yang tidak dapat sertifikat tidak diperkenankan praktek
3.    Fase III : Pelatihan oleh tenaga terlatih
a.       Persalinan hanya boleh dilakukan oleh tenaga trelatih
b.      Pendidikan bidan desa diprioritaskan pada anak dan keluarga dukun
c.        
H.      Upaya Pembinaan Dukun Bayi
Dalam praktiknya, melakukan pembinaan dukun di masyarakat tidaklah mudah. Masyarakat masih menganggap dukun sebagai tokoh masyarakat yang patut dihormati, memiliki peran penting bagi ibu-ibu di desa.
Oleh karena itu, di butuhkan upaya agar bidan dapat melakukan pembinaan dukun. Beberapa upaya yang dapat dilakukan bidan di antaranya adalah sebagai berikut:
1.    Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
2.    Melakukan pendekatan dengan para dukun.
3.    Memberikan pengertian kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang bersih dan aman.
4.    Memberi pengetahuan kepada dukun tentang komplikasi-komplikasi kehamilan dan bahaya proses persalinan.
5.    Membina kemitraan dengan dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.
6.    Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus-kasus resiko tinggi kehamilan kepada tenaga kesehatan.

I.         Klasifikasi Pembinaan Dukun Bayi
Berikut adalah klasifikasi materi yang di berikan untuk melakukan pembinaan dukun:
1.      Promosi bidan siaga
2.      Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, dan rujukan
3.      Pengenalan dini tetanus neonatorum, BBLR, dan rujukan
4.      Penyuluhan gizi dan KB
5.      Pencatatan kelahiran dan kematian

BAB III
ISI

Dari hasil wawancara yang kami lakukan, dengan seorang dukun yang bernama Simbah X, beliau berumur 90 tahun, yang beralamat di Desa Y, ternyata simbah telah menjadi dukun sudah 50 tahun, keahlian beliau didapatkan dari keturunan ibunya. Beliau selama menjadi dukun pernah mendapatkan sertifikat kelulusan pelatihan tahun 2003 karena apabila dukun yang tidak memiliki surat tidak dibolehkan untuk beraktifitas kembali di masyarakat. Pelatihan saat itu di lakukan di DINKES Kebumen, dan dilakukan dengan rekannya 10 orang dari desanya dipimpin oleh bidan. Diantaranya:
1.      mengenai tanda tanda persalinan,
2.      penanganan persalinan dengan 3 bersih,
3.      pemakaian alat gunting dan penjepit,
4.      cuci tangan,
5.      perlindungan diri,
6.      perawatan bayi baru lahir ( memandikan, perawatan tali pusat)
7.      perawatan plasenta,
8.      membersihkan tempat bersalin, badan ibu bersalin, kain kotor ibu bersalin.
9.      Perawatan ibu nifas
10
 
Kemudian selama ini beliau selalu hadir dan mendampingi pasiennya apabila akan bersalin an langsung membawa ke bidan, beliau juga selalu melakukan kunjungan kerumah pasien untuk memijat badan kecuali perut ibu pasca bersalin. Dari hasil wawancara yang kami lakukan beliau menceritakan pengalaman menolong persalinan pada 30 tahun yang lalu, bahwacara menolong persalinannya masih menggunakan metode yang sangat sederhana seperti memotong tali pusat denga menggunakan welad ( kulit bambu ). Dan perawatan tali pusat dengan cara menaburkan bubur batu bata ke tali pusat supaya cepat puput. Setelah mendapat pelatihan beliau merubah cara penanganan persalinan sesuai medis ( pembinaan dukun bayi ).
Dulu saat beliau menolong persalinan, beliau tidak melakukan tindakan apapun kecuali hanya menunggu sampai bayinya keluar dengan sendirimya, dan beliau baru memegang bayinya, karena beranggapan yang melahirkan bayi hanya kekuasaan Allah. Pasca melahirkan beliau tidak langsung hilang kontak dengan kliennya melainkan beliau selalu kerumah pasien untuk melakukan perawatan bayi seperti memandikan, dan mmijit ibunya. Namun setelah beranjak umur yang sudah tua, beliau berhent untuk menjadi dukun, beliau juga mewariskan ilmu pijit kepada anak perempuannya.



















BAB IV
PEMBAHASAN
A.      Pembagian Dukun bayi
1.      Teori  
a.         Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
b.         Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
2.      Praktek
Dukun bayi ditempat yang kami wawancara termasuk dukun bayi yang terlatih, dukun bayi telah mengikuti pelatihan di Dinas Kesehatan Kabupaten tentang metode penolongan persalinan secara medis
3.      Pembahasan
Pada kenyataannya antara teori dan praktek sama.

B.       Fungsi Dukun Bayi
1.         Teori
Fungsi utama dukun bayi ialah melaksanakan pertolongan persalinan secara benar dan aman. Untuk mendukung fungsi utamanya, maka fungsi tambahan dapat dikembangkan setempat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan.
2.         Praktek
Dalam prakteknya dukun bayi memang membantu bidan dalam melakukan pertolongan persalinan, tidak hanya membantu pada saat proses persalinan saja akan tetapi dukun bayi juga membantu bidan perawatan bayi dan ibu nifas.
3.         Pembahasan
12
 
Pada kenyataan antara teori dan praktek sama.
C.      Peran Dukun Bayi
1.      Teori
Memberitahu ibu hamil untuk bersalin di tenaga kesehatan. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dapat melakukan pertolongan persalinan dan mengenali tanda bahaya pada kehamilan persalinan nifas dan rujukannya
2.      Praktek
Dukun bayi selalu menganjurkan ibu hamil untuk periksa dan melakukan persalinan di tempat pelayanan kesehatan/bidan, dukun bayi juga sudah diberi tahu tentang tanda bahaya ibu hamil.
3.      Pembahasan
Pada kenyataannya dilahan antara teori dan praktek sama.


















BAB V
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Kerjasama yang saling menguntungkan antara bidan dengan dukun bayi sangat diperlukan untuk memindahkan persalinan dari dukun bayi ke Bidan. Dengan demikian, kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi risiko yang mungkin terjadi bila persalinan tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun. Dukun bayi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya, menolong proses persalinan seseorang, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain sebagainya.

B.       Saran
Kita sebagai tenaga kesehatan yang terlatih/ bidan harus  meningkatkan pembinaan dan pelatihan terhadap dukun bayi, agar angka kematian ibu dan bayi serta kesakitan terhadap ibu hamil dan bersalin yang diakibatkan oleh kesalahan, ketidak bersihan alat dan kurangnya pengetahuan dukun bayi terhadap ilmu kesehatan. Kita juga harus mendekatkan diri kepada dukun bayi dan kader untuk lebih mensukseskan program KIA dengan metode yang sesuai dengan kesehatan, adat, dan kebiasaan masyarakat setempat yang berbeda-beda.









14
 
 
DAFTAR PUSTAKA